4 bulan kedepan: maceeet
Adakah yang bertanggungjawab untuk memberi informasi kepada masyarakat akan adanya perubahan kondisi jalan —karena perbaikan, kecelakaan dsb— dan siapa yang harus menyediakan tanda/rambu agar masyarakat tidak dijebak masuk jalan tol yang macet???
Jalan tol layang Jembatan Tiga, Jakarta Utara, yang rusak akibat kebakaran di kolongnya, 7 Agustus 2007, mulai diperbaiki. Lalu lintas di sebagian jalan Jakarta Senin kemarin nyaris lumpuh. Butuh waktu beberapa jam ke dan dari Bandara Soekarno-Hatta.
Hudaya Arryanto, Direktur Operasi PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk, operator jalan tol mengatakan perbaikan akan berlangsung empat bulan, terhitung sejak surat perintah kerja medio Maret lalu. ”Pekerjaan fisik diperkirakan selesai pada medio Juli 2008,” katanya.
Pantauan di lapangan menunjukkan dua faktor pemicu kemacetan terkait proyek itu: pertama, penyempitan lajur tol dari tiga lajur menjadi satu lajur di kedua arah di Jembatan Tiga, di sekitar Kilometer 24+200. Kedua, pembatasan dan pengalihan arus lalu lintas dari dan ke sekitar Jembatan Tiga, baik di ruas jalan arteri maupun ruas jalan tol.
Pelintas yang tidak mengetahui adanya perbaikan itu terjebak berjam-jam. ”Saya sudah tiga jam, bahkan mau jalan empat jam, terjebak kemacetan ini. Saya masuk di gerbang tol Tanjung Priok 2 menuju Kota, tetapi sejak masuk pukul 16.00, sampai pukul 19.30 masih di tol Ancol. Macet parah,” kata Faisal (43), seorang pelintas, per telepon selulernya semalam.
Kemacetan juga terjadi di ruas tol sebaliknya. Stagnasi juga terjadi di ruas Tomang-Grogol-Jelambar-Jembatan Tiga pukul 15.00 - 20.30. Kemacetan juga mengganggu lalu lintas menuju Bandara, lalu lintas dari bandara menuju Pluit terganggu hingga pukul 18.30. Para pelintas terjebak selama 2-3 jam di ruas ini.
Akibat ketiadaan rambu lalu lintas, puluhan truk kontainer dari arah Grogol keluar di Jembatan Tiga, dan hendak menuju Ancol/Tanjung Priok, menyasar hingga ke Jalan Kencana Raya, Pluit. Kondisi itu menutup semua ruas jalan masuk dan keluar dari Pluit dan sekitarnya. Gambaran itu terlihat di Pluit Raya, Pluit Selatan Raya, Pakin, Gedong Panjang, Lodan Raya, Jembatan Tiga, hingga Jembatan Besi, dan sepanjang Jalan Raya Latumenten, serta kawasan sekitar Jelambar.
Sosialisasi tidak efektif
Menurut Hudaya, pihaknya sudah melakukan sosialisasi berupa pemasangan spanduk di 25 titik masuk tol dalam kota, sejak dua minggu silam. Intinya, mengingatkan pelintas bahwa perjalanan akan terganggu karena adanya perbaikan di Jembatan Tiga. Operator juga membagikan brosur tentang hal yang sama di setiap gerbang tol menuju Jembatan Tiga sejak Minggu.
Namun, sejumlah pelintas menilai bentuk sosialisasi itu tidak efektif. ”Sebab, spanduk dipasang di gerbang tol dan leaflet pun dibagikan di gerbang tol. Seharusnya dipasang di jalan arteri, bukan di gerbang tol. Brosur juga seharusnya dibagikan di persimpangan jalan arteri dengan akses ke tol. Pelintas baru mengetahui setelah di gerbang tol dan mustahil mundur lagi,” kata Faisal.
Mulai dibongkar
Menurut Hudaya, pekerjaan fisik, seperti pembongkaran pembatas tol (barrier), sudah mulai dilakukan Minggu. Namun, pekerjaan pembongkaran aspal jalan dilakukan pada Senin malam. Akibatnya, terjadi penyempitan lajur di kedua arah pada sekitar Km 24+200, di mana ruas jalan dari tiga lajur menjadi satu lajur.
Selama masa konstruksi, yang berlangsung hingga empat bulan itu, lajur jalan yang digunakan hanya satu lajur. Oleh karena itu, dilakukan pengalihan lalu lintas khusus bus besar, truk, dan trailer. Hanya kendaraan kecil jenis sedan, minibus, pikap, dan jip boleh melintasi lajur jalan tol di lokasi perbaikan itu.
Kendaraan besar dari Tanjung Priok dan Ancol harus keluar tol PRJ-Kemayoran, SeaWorld-Ancol, Mangga Dua, dan masuk kembali di gerbang tol Jembatan Tiga 1, Angke 1, Angke 2 atau Pluit. Dari bandara menuju Ancol/Priok, keluar tol Pluit, dan masuk lagi di gerbang tol Jembatan Tiga 2 atau Gedong Panjang 2.
Sementara dari Grogol atau Bandara Cengkareng menuju Ancol dan Tanjung Priok harus keluar Jembatan Tiga dan masuk di gerbang tol Jembatan Tiga 2 atau Gedong Panjang 2. Untuk kendaraan yang berasal dari jalan tol, lalu keluar diberi tiket untuk ditunjukkan lagi pada saat masuk kembali ke ruas jalan tol.
Wakil Kepala Satuan Lalu Lintas Jakarta Utara Ajun Komisaris Winarno mengatakan, selanjutnya akan dilakukan sistem buka tutup jalan, menyesuaikan tingkat kepadatan lalu lintas. Sistem ini dilakukan di Jembatan Dua yang mengarah ke Jembatan Tiga. Arus lalu lintas dari Grogol dialihkan ke kiri, lewat depan Kantor Polsektro Tambora, Jakarta Barat.
Penutupan jalan dilakukan untuk mengurangi kemacetan di Jembatan Tiga. ”Intinya, menghindari kawasan Jembatan Tiga dan pakai jalur alternatif selatan lewat Jalan Gunung Sahari.”
Siaran Pers
Divisi Hubungan Masyarakat PT Citra Marga Nusaphala Persada (CMNP) Tbk, Senin menyebarkan siaran pers: Jalan Tol Ir Wiyoto Wiyono sekitar Jembatan Tiga, Jakarta Utara, ditutup untuk kendaraan besar hingga Juli 2008. Disebutkan, kendaraan jenis bus, truk, dan trailer dilarang melintasi jalan tol yang sedang menjalani perbaikan. Sedangkan kendaraan jenis sedan, pikap, jeep boleh melintas.
Di Km 24+200 hanya dibuka satu lajur untuk masing-masing arah. Untuk kendaraan yang dilarang melintas agar keluar keluar sebelum lokasi perbaikan dan masuk kembali di pintu tol berikutnya.
Alternatif yang disediakan :
Dari arah Tanjung Priok menuju Bandara atau Gorgol, keluar di pintu PRJ/Kemayoran, Sunda Kelapa/Glodok, dan Jembatan Tiga, kemudian masuk kembali di gerbang tol Jembatan Tiga 1, Angke 1, dan Angke 2. Karcis tanda masuk dipergunakan saat masuk di ketiga gerbang tol tersebut.
Dari arah Bandara menuju Tanjung Priok, keluar di Pluit dan masuk kembali di gerbang tol Jembatan Dua atau Gedong Panjang. Kendaraan yang masuk ke dua gerbang tol tersebut harus membayar penuh tarif tol dalam kota.
Dari arah Grogol menuju Tanjung Priok, keluar di Jembatan Tiga dan masuk kembali di gerbang tol Jembatan Dua dan Gedong Panjang dua. tidak perlu membayar lagi.
Pengalihan kendaraan itu mulai diberlakukan sejak Minggu pukul 00.00 Arus lalu lintas di ruas tol dalam kota lumpuh selama enam jam. Berdasarkan pantauan Koran Sindo, kemacetan terjadi dari arah Cawang menuju Pluit dan Tanjung Priok, dari Km 19–25, dan dari Km 14–23,dari arah Grogol menuju Ancol. Dari arah Cawang menuju Grogol juga demikian.Kemacetan terjadi pada pukul 10.00–16.00, antrean kendaraan nyaris tidak bisa bergerak.
Arus lalu lintas mulai cair pukul 17.00 imbasnya berdampak pada lalu lintas di beberapa jalan alteri, seperti Jalan Tubagus Angke,Jembatan I,II,dan III, Jalan Gedong Panjang,Pasar Ikan, dan Jalan Kopi Jakarta Barat. Di jalan-jalan tersebut kemacetan tidak dapat terhindarkan.
Kasat Patroli Jalan Raya Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya AKBP Kanton Pinem mengatakan, kemacetan disebabkan terjadinya penyempitan, dari tiga jalur menjadi satu. Akibatnya, hampir sebagian akses tol dalam kota macet total.
Menurut dia, untuk memperlancar arus lalu lintas, pihaknya menerjunkan 125 petugas yang disebar ke pelosok ruas tol, terutama di titik rawan kemacetan. Pihaknya juga memberlakukan sistem buka-tutup jalan di Jembatan Dua mengarah Jembatan Tiga.
”Arus lalu lintas di beberapa lokasi sempat dialihkan. Dari Grogol misalnya, kendaraan dialihkan ke kiri melalui depan Polsek Tambora,” jelasnya.
Direktur Operasi PT Citra Marga Nushapala Persada Arianto Hudaya mengakui, tengah memperbaiki konstruksi tol yang terbakar Agustus lalu, khususnya di Jembatan Tiga. Perbaikan dijadwalkan selesai dalam jangka empat bulan, pada Agustus mendatang. Anggaran mencapai Rp20 miliar. ”Pekerjaannya dilakukan secara tender yang diumumkan November lalu. Kontraktornya PT Yasa Patria Perkasa dan konsultan PT Multiphi Beta,”terangnya.
Perbaikan dilakukan dengan melihat rekomendasi Departemen Pekerjaan Umum, yaitu mengganti 27 balok penopang( girder) yang rusak berat dan sedang. Sementara sisanya akan diperbaiki dengan penambalan dan pembetonan.”Temperatur api saat itu mencapai 700 derajat Celsius dan sampai merusakkan besi beton.Total ada 44 girder yang terbakar,” jelasnya.
Sejumlah perbaikan lain, di antaranya pembongkaran dan perbaikan lengan penyeimbang (expansion joint), pembatas (barrier), lantai jembatan, perkerasan aspal, serta penggantian roda penahan.
”Perbaikan ini termasuk yang pertama kali kami lakukan. Risiko keselamatan juga sangat besar karena para pekerja kami juga harus berdampingan dengan para pengendara yang tetap melewati jalan ini,”ungkapnya. Arianto menambahkan, CMNP berpotensi mengalami kerugian Rp150 juta per hari atau Rp 4,5 miliar per bulan sejak rusaknya konstruksi jembatan layang di Jembatan Tiga.
Kemacetan di ruas ini juga menyebabkan beralihnya konsumen tol untuk menggunakan ruas tol lain. Perbaikan harus dilakukan karena melemahnya konstruksi tol setelah kebakaran yang menghanguskan 200 rumah petak Agustus 2007 lalu. Api bersumber dari ledakan kompor gas salah satu warga. Sampai saat ini pun banyak warga yang kembali menempati lokasi kebakaran, padahal telah diberi uang kerohiman ataupun dipindahkan ke rusun. (neneng z/sucipto/ mohammad yamin)
(berita dari Kompas, Media Indonesia, Koran Sindo)












