Tuesday, April 8, 2008

4 bulan kedepan: maceeet

Adakah yang bertanggungjawab untuk memberi informasi kepada masyarakat akan adanya perubahan kondisi jalan —karena perbaikan, kecelakaan dsb— dan siapa yang harus menyediakan tanda/rambu agar masyarakat tidak dijebak masuk jalan tol yang macet???

20080408news-2 Jalan tol layang Jembatan Tiga, Jakarta Utara, yang rusak akibat kebakaran di kolongnya, 7 Agustus 2007, mulai diperbaiki. Lalu lintas di sebagian jalan Jakarta Senin kemarin nyaris lumpuh. Butuh waktu beberapa jam ke dan dari Bandara Soekarno-Hatta.

Hudaya Arryanto, Direktur Operasi PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk, operator jalan tol mengatakan perbaikan akan berlangsung empat bulan, terhitung sejak surat perintah kerja medio Maret lalu. ”Pekerjaan fisik diperkirakan selesai pada medio Juli 2008,” katanya.

Pantauan di lapangan menunjukkan dua faktor pemicu kemacetan terkait proyek itu: pertama, penyempitan lajur tol dari tiga lajur menjadi satu lajur di kedua arah di Jembatan Tiga, di sekitar Kilometer 24+200. Kedua, pembatasan dan pengalihan arus lalu lintas dari dan ke sekitar Jembatan Tiga, baik di ruas jalan arteri maupun ruas jalan tol.

Pelintas yang tidak mengetahui adanya perbaikan itu terjebak berjam-jam. ”Saya sudah tiga jam, bahkan mau jalan empat jam, terjebak kemacetan ini. Saya masuk di gerbang tol Tanjung Priok 2 menuju Kota, tetapi sejak masuk pukul 16.00, sampai pukul 19.30 masih di tol Ancol. Macet parah,” kata Faisal (43), seorang pelintas, per telepon selulernya semalam.

Kemacetan juga terjadi di ruas tol sebaliknya. Stagnasi juga terjadi di ruas Tomang-Grogol-Jelambar-Jembatan Tiga pukul 15.00 - 20.30. Kemacetan juga mengganggu lalu lintas menuju Bandara, lalu lintas dari bandara menuju Pluit terganggu hingga pukul 18.30. Para pelintas terjebak selama 2-3 jam di ruas ini.

Akibat ketiadaan rambu lalu lintas, puluhan truk kontainer dari arah Grogol keluar di Jembatan Tiga, dan hendak menuju Ancol/Tanjung Priok, menyasar hingga ke Jalan Kencana Raya, Pluit. Kondisi itu menutup semua ruas jalan masuk dan keluar dari Pluit dan sekitarnya. Gambaran itu terlihat di Pluit Raya, Pluit Selatan Raya, Pakin, Gedong Panjang, Lodan Raya, Jembatan Tiga, hingga Jembatan Besi, dan sepanjang Jalan Raya Latumenten, serta kawasan sekitar Jelambar.

Sosialisasi tidak efektif

Menurut Hudaya, pihaknya sudah melakukan sosialisasi berupa pemasangan spanduk di 25 titik masuk tol dalam kota, sejak dua minggu silam. Intinya, mengingatkan pelintas bahwa perjalanan akan terganggu karena adanya perbaikan di Jembatan Tiga. Operator juga membagikan brosur tentang hal yang sama di setiap gerbang tol menuju Jembatan Tiga sejak Minggu.

Namun, sejumlah pelintas menilai bentuk sosialisasi itu tidak efektif. ”Sebab, spanduk dipasang di gerbang tol dan leaflet pun dibagikan di gerbang tol. Seharusnya dipasang di jalan arteri, bukan di gerbang tol. Brosur juga seharusnya dibagikan di persimpangan jalan arteri dengan akses ke tol. Pelintas baru mengetahui setelah di gerbang tol dan mustahil mundur lagi,” kata Faisal.

Mulai dibongkar

Menurut Hudaya, pekerjaan fisik, seperti pembongkaran pembatas tol (barrier), sudah mulai dilakukan Minggu. Namun, pekerjaan pembongkaran aspal jalan dilakukan pada Senin malam. Akibatnya, terjadi penyempitan lajur di kedua arah pada sekitar Km 24+200, di mana ruas jalan dari tiga lajur menjadi satu lajur.

Selama masa konstruksi, yang berlangsung hingga empat bulan itu, lajur jalan yang digunakan hanya satu lajur. Oleh karena itu, dilakukan pengalihan lalu lintas khusus bus besar, truk, dan trailer. Hanya kendaraan kecil jenis sedan, minibus, pikap, dan jip boleh melintasi lajur jalan tol di lokasi perbaikan itu.

Kendaraan besar dari Tanjung Priok dan Ancol harus keluar tol PRJ-Kemayoran, SeaWorld-Ancol, Mangga Dua, dan masuk kembali di gerbang tol Jembatan Tiga 1, Angke 1, Angke 2 atau Pluit. Dari bandara menuju Ancol/Priok, keluar tol Pluit, dan masuk lagi di gerbang tol Jembatan Tiga 2 atau Gedong Panjang 2.

Sementara dari Grogol atau Bandara Cengkareng menuju Ancol dan Tanjung Priok harus keluar Jembatan Tiga dan masuk di gerbang tol Jembatan Tiga 2 atau Gedong Panjang 2. Untuk kendaraan yang berasal dari jalan tol, lalu keluar diberi tiket untuk ditunjukkan lagi pada saat masuk kembali ke ruas jalan tol.

Wakil Kepala Satuan Lalu Lintas Jakarta Utara Ajun Komisaris Winarno mengatakan, selanjutnya akan dilakukan sistem buka tutup jalan, menyesuaikan tingkat kepadatan lalu lintas. Sistem ini dilakukan di Jembatan Dua yang mengarah ke Jembatan Tiga. Arus lalu lintas dari Grogol dialihkan ke kiri, lewat depan Kantor Polsektro Tambora, Jakarta Barat.

Penutupan jalan dilakukan untuk mengurangi kemacetan di Jembatan Tiga. ”Intinya, menghindari kawasan Jembatan Tiga dan pakai jalur alternatif selatan lewat Jalan Gunung Sahari.”

Siaran Pers

Divisi Hubungan Masyarakat PT Citra Marga Nusaphala Persada (CMNP) Tbk, Senin menyebarkan siaran pers: Jalan Tol Ir Wiyoto Wiyono sekitar Jembatan Tiga, Jakarta Utara, ditutup untuk kendaraan besar hingga Juli 2008. Disebutkan, kendaraan jenis bus, truk, dan trailer dilarang melintasi jalan tol yang sedang menjalani perbaikan. Sedangkan kendaraan jenis sedan, pikap, jeep boleh melintas.

Di Km 24+200 hanya dibuka satu lajur untuk masing-masing arah. Untuk kendaraan yang dilarang melintas agar keluar keluar sebelum lokasi perbaikan dan masuk kembali di pintu tol berikutnya.

Alternatif yang disediakan :
Dari arah Tanjung Priok menuju Bandara atau Gorgol, keluar di pintu PRJ/Kemayoran, Sunda Kelapa/Glodok, dan Jembatan Tiga, kemudian masuk kembali di gerbang tol Jembatan Tiga 1, Angke 1, dan Angke 2. Karcis tanda masuk dipergunakan saat masuk di ketiga gerbang tol tersebut.

Dari arah Bandara menuju Tanjung Priok, keluar di Pluit dan masuk kembali di gerbang tol Jembatan Dua atau Gedong Panjang. Kendaraan yang masuk ke dua gerbang tol tersebut harus membayar penuh tarif tol dalam kota.

Dari arah Grogol menuju Tanjung Priok, keluar di Jembatan Tiga dan masuk kembali di gerbang tol Jembatan Dua dan Gedong Panjang dua. tidak perlu membayar lagi.

Pengalihan kendaraan itu mulai diberlakukan sejak Minggu pukul 00.00  Arus lalu lintas di ruas tol dalam kota lumpuh selama enam jam. Berdasarkan pantauan Koran Sindo, kemacetan terjadi dari arah Cawang menuju Pluit dan Tanjung Priok, dari Km 19–25, dan dari Km 14–23,dari arah Grogol menuju Ancol. Dari arah Cawang menuju Grogol juga demikian.Kemacetan terjadi pada pukul 10.00–16.00, antrean kendaraan nyaris tidak bisa bergerak.

Arus lalu lintas mulai cair pukul 17.00 imbasnya berdampak pada lalu lintas di beberapa jalan alteri, seperti Jalan Tubagus Angke,Jembatan I,II,dan III, Jalan Gedong Panjang,Pasar Ikan, dan Jalan Kopi Jakarta Barat. Di jalan-jalan tersebut kemacetan tidak dapat terhindarkan.

Kasat Patroli Jalan Raya Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya AKBP Kanton Pinem mengatakan, kemacetan disebabkan terjadinya penyempitan, dari tiga jalur menjadi satu. Akibatnya, hampir sebagian akses tol dalam kota macet total.

Menurut dia, untuk memperlancar arus lalu lintas, pihaknya menerjunkan 125 petugas yang disebar ke pelosok ruas tol, terutama di titik rawan kemacetan. Pihaknya juga memberlakukan sistem buka-tutup jalan di Jembatan Dua mengarah Jembatan Tiga.

”Arus lalu lintas di beberapa lokasi sempat dialihkan. Dari Grogol misalnya, kendaraan dialihkan ke kiri melalui depan Polsek Tambora,” jelasnya.

Direktur Operasi PT Citra Marga Nushapala Persada Arianto Hudaya mengakui, tengah memperbaiki konstruksi tol yang terbakar Agustus lalu, khususnya di Jembatan Tiga. Perbaikan dijadwalkan selesai dalam jangka empat bulan, pada Agustus mendatang. Anggaran mencapai Rp20 miliar. ”Pekerjaannya dilakukan secara tender yang diumumkan November lalu. Kontraktornya PT Yasa Patria Perkasa dan konsultan PT Multiphi Beta,”terangnya.

Perbaikan dilakukan dengan melihat rekomendasi Departemen Pekerjaan Umum, yaitu mengganti 27 balok penopang( girder) yang rusak berat dan sedang. Sementara sisanya akan diperbaiki dengan penambalan dan pembetonan.”Temperatur api saat itu mencapai 700 derajat Celsius dan sampai merusakkan besi beton.Total ada 44 girder yang terbakar,” jelasnya.

Sejumlah perbaikan lain, di antaranya pembongkaran dan perbaikan lengan penyeimbang (expansion joint), pembatas (barrier), lantai jembatan, perkerasan aspal, serta penggantian roda penahan.

”Perbaikan ini termasuk yang pertama kali kami lakukan. Risiko keselamatan juga sangat besar karena para pekerja kami juga harus berdampingan dengan para pengendara yang tetap melewati jalan ini,”ungkapnya. Arianto menambahkan, CMNP berpotensi mengalami kerugian Rp150 juta per hari atau Rp 4,5 miliar per bulan sejak rusaknya konstruksi jembatan layang di Jembatan Tiga.

Kemacetan di ruas ini juga menyebabkan beralihnya konsumen tol untuk menggunakan ruas tol lain. Perbaikan harus dilakukan karena melemahnya konstruksi tol setelah kebakaran yang menghanguskan 200 rumah petak Agustus 2007 lalu. Api bersumber dari ledakan kompor gas salah satu warga. Sampai saat ini pun banyak warga yang kembali menempati lokasi kebakaran, padahal telah diberi uang kerohiman ataupun dipindahkan ke rusun. (neneng z/sucipto/ mohammad yamin)

(berita dari Kompas, Media Indonesia, Koran Sindo)

Read More...

Sunday, February 10, 2008

Toll Bandara segera melayang

Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto mengatakan jalan layang tol Sedyatmo menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta akan dimulai pembangunannya Maret ini.Tol dibuat di atas tol yang ada saat ini sepanjang 7 km, khususnya di sekitar areal km 25 sampai 28.
Setiap arah akan memiliki 2 lajur, diperkirakan akan selesai dalam waktu setahun.

Proses kajian sudah selesai, kini sedang berjalan proses tender fisiknya.
Gubernur Fauzi Bowo menyatakan pembangunan tol layang ini akan disinergikan dengan rencana pembangunan KA bandara.
Menteri Perhubungan Djusman Syafii Djamal menyatakan pembangunan tol ini tidak boleh merusak biota hutan bakau disana. "Departemen PU dan Kehutanan telah berkoordinasi karena di sana karena hutan lindung."

Read More...

Wednesday, January 2, 2008

Jalan tol dalam kota tidak memecahkan masalah

Menanggapi rencana Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo yang akan membangun enam ruas jalan tol di tengah kota, Direktur Instran Darmaningtyas berpendapat, hal itu tidak akan memecahkan masalah kemacetan.

Menurut dia, dalam jangka panjang, ketersediaan jalan tol tengah kota justru merangsang pengguna jalan untuk membeli kendaraan pribadi. Hal itu akan menimbulkan masalah kemacetan yang lebih hebat dalam tiga hingga empat tahun ke depan.

Seharusnya Pemerintah Provinsi DKI mengoptimalkan penggunaan sarana transportasi massal yang sudah ada selama ini, misalnya bus jalur khusus (transjakarta).

Kenaikan tarif bus bisa saja dilaksanakan bila sistem keuangan perusahaan pengelola sudah terjamin transparansi dan akuntabilitasnya. Apabila tarif sudah bisa dinaikkan, subsidi pemerintah dialihkan untuk meremajakan bus-bus kota yang ada sehingga pengguna kendaraan pribadi mau beralih menggunakan angkutan massal. [dari Kompas - 2 Januari 2008, Setiap Bulan 300 Pengendara Motor Tewas ]

Read More...

Monday, December 31, 2007

Jalan tol bukan solusi

"Tol bukannya mengurangi kemacetan tapi malah memfasilitasi kendaraan, sehingga pengguna kendaraan pribadi akan makin banyak dengan adanya tol," kata F Trisdiantara, Kepala Bidang Kajian Transportasi Universitas Indonesia F Trisdiantara dalam siaran pers Evaluasi Transportasi 2007 di Jakarta hari Senin (31/12).

Pemerintah seharusnya lebih memfokuskan pada pembangunan jalan baru seperti jalan layang untuk angkutan massal, atau mengalih fungsikan ruas tol yang tidak digunakan lagi sebagai jalur busway. Menurutnya jalur transportasi massal yang paling tepat untuk Jakarta adalah transportasi berbasis rel.
"Sebenarnya untuk Jakarta paling pas yang berbasis rel. Tapi masalahnya sekarang kemampuan pemerintah tidak memadai untuk membangun itu dan daya beli masyarakat yang masih kurang."

Adapun pembangunan jalur kereta blue line dinilai Trisdiantara sudah tepat. Namun fungsi blue line dan fungsi busway harus diintegrasikan, yakni di mana terdapat jalur busway, seharusnya blue line juga dibangun di sana.
Saat ini dinas perhubungan sedang membicarakan sistem integrasi busway dan blue line. "Tentu semakin terintegrasi semakin banyak orang memakai blue line dan busway, jadi diharapkan mampu mengurangi kendaraan pribadi," kata Tris. [dari Kompas]

Read More...

Thursday, November 22, 2007

Enam ruas jalan tol perlu dikaji lagi

Tahun 2008 nanti ada rencana dibangun enam ruas tol dalam kota. Kalangan DPRD DKI mengkhawatirkan kemacetan di ibukota semakin bertambah.
"Jalan tol membuat akses semakin lancar, sehingga kendaraan dari luar kota akan masuk ke ibukota. Saya khawatir pembangunan enam ruas jalan tol tersebut nantinya justru membuat kemacetan semakin parah," ujar Wakil Ketua DPRD DKI Ilal Ferhard.

Seharusnya Pemprov DKI terlebih dahulu memperbaiki jaringan jalan yang telah ada, memperbaiki moda transportasi massal yang telah ada dan segera merealisasikan rencana pembangunan monorel atau subway yang telah dirintis beberapa waktu lalu.

"Penyediaan transportasi massal yang nyaman membuat pemilik kendaraan beralih menggunakan transportasi tersebut, sehingga kepadatan kendaraan dapat dikurangi," tukasnya. Dan tentunya jaln tol tidak akan dibutuhkan lagi.

Selain itu, untuk mengurangi kepadatan kendaraan yang merupakan penyebab kemacetan ibu kota, Pemprov DKI juga diminta untuk terus mendorong pemberlakuan Electronic Road Pricing (ERP) di jalan-jalan ibu kota.

Rencana pembangunan enam ruas jalan tol dalam kota itu sendiri saat ini tengah dibicarakan oleh Menko Perekonomian setelah Departemen PU menyetujui rencana pembangunan proyek tersebut.

Namun Ilal menegaskan walaupun kelengkapan persyarakat pembangunan enam ruas jalan tol dalam kota telah rampung, bukan berarti pembangunan bisa langsung dilaksanakan."Dewan akan mengkaji terlebih dahulu efisiensi pembangunan enam ruas jalan tol itu, setelah Pemprov DKI melaksanakan beberapa opsi yang dapat mengurangi kepadatan kendaraan lalu lintas," tegasnya.

Diberitakan sebelumnya, Pemprov DKI mendukung upaya Departemen PU mempercepat pembangunan enam ruas jalan tol dalam kota. Sebab, pembangunan enam ruas tol tersebut untuk mengatasi kemacetan di Jakarta yang semakin parah. Pembangunan proyek ini melibatkan BUMD milik DKI, PT Jakarta Propertindo.

Diberitakan Koran Tempo bahwa Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto secara terpisah mengatakan penambahan jalan di Jakarta bukan penyelesaian yang baik. "Sebab, orang akan terpicu untuk membeli mobil," ucapnya. Menurut dia, jalan keluar yang baik adalah memperbaiki transportasi publik.

Enam ruas jalan tol yang akan dibangun sepanjang 85,6 kilometer dengan biaya sebesar Rp 23 triliun. Angka ini setara dengan Rp 270 miliar untuk setiap kilometernya. Enam ruas jalan tol tersebut melintasi Kemayoran-Kampungmelayu, Rawabuaya- Sunter, Kampungmelayu-Tanahabang-Duripulo-Sunter-Pulogebang-Pasarminggu, Cassablanca, dan Ulujami-Tanahabang.

Padahal hal ini pernah juga mencuat tahun lalu dalam debat publik "Menggugat Pembangunan Jalan Tol dalam Kota Jakarta", 24 Mei 2006, yang diselenggarakan Kaukus Lingkungan Hidup Jakarta.

"Rencana pembangunan enam ruas jalan tol itu juga tidak pernah tercantum dalam rencana tata ruang wilayah maupun Pola Transportasi Makro," kata Ketua Kelompok Kerja Transportasi Kaukus Lingkungan Hidup Jakarta Tubagus Haryo Karbyanto.

Para pembicara dalam acara itu antara lain Wakil Ketua DPRD Achmad Heryawan, Kepala Dinas PU DKI Wishnu Soebagyo, dan Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia Bambang Susantono. Anggota DPD DKI Sarwono Kusumaatmadja mengemukakan, upaya untuk mengatasi kemacetan di Jakarta adalah melalui pembatasan penggunaan kendaraan pribadi, baik pembatasan wilayah atau zona, penetapan tarif parkir tinggi, serta menaikkan pajak dan BBM.

Berita terkait: Koran Tempo

Read More...

Friday, August 17, 2007

Jalan Tol Jembatan Tiga dipotong

JAKARTA (SINDO) – Jalan Tol Wiyoto Wiyono, persisnya di Jembatan Tiga, Jakarta Utara, sepanjang 140 meter yang menghubungkan akses Tanjung Priok–Penjaringan dipotong.

Pemotongan itu sebagai imbas kebakaran di permukiman warga kolong jalan tol tersebut pada 7 Agustus lalu. ”Pemotongan terpaksa dilakukan karena pascakebakaran, konstruksi jalan sangat tidak aman,” ujar Direktur Utama Cipta Marga Nusaphala Persada (CMNP) Daddy Haryadi seusai rapat muspida di Balai Kota, kemarin.

Daddy menjelaskan, selama proses pemotongan konstruksi jalan tol yang terbakar,akses jalan itu ditutup sementara. Otomatis, akses menuju Bandara Soekarno Hatta, Kemayoran, Tanjung Priok 2, dan Ancol Barat terputus.”Diperkirakan,butuh waktu selama empat bulan untuk membangun jalan tol tersebut.Dana yang dihabiskan sebesar Rp40 miliar,” lanjutnya.

Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso mendukung Departemen Pekerjaan Umum (PU) yang membongkar jalan tol yang rusak akibat terkena imbas dari terbakarnya rumah warga kolong jalan tol. Pengguna jalan menjadi tidak nyaman melintasi jalan itu, karena khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
”Ini kerugian yang sangat besar. Maka itu, untuk antisipasinya memang harus dibongkar demi keselamatan pengguna jalan,” kata mantan Pangdam Jaya ini. Sutiyoso berjanji merelokasi warga yang tinggal di permukiman bawah kolong tol ke rumah susun (rusun). Namun, hanya pemilik KTP Jakarta yang akan dipindahkan ke rusun di Marunda dan memperoleh diskon khusus.

”Tapi warga yang tidak memiliki KTP hanya dikasih uang kerohiman Rp1 juta. Mereka tidak mendapat hak relokasi ke rusun,” terangnya. Dia menambahkan, seluruh pembiayaan jalan tol dan relokasi warga serta biaya kerohiman ditanggung pemerintah pusat. Sementara itu, Pemprov DKI Jakarta hanya membantu.

Selanjutnya, pemerintah pusat, melalui Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, telah mengeluarkan pernyataan resmi berupa larangan bawah jalan tol untuk kawasan permukiman. Wali Kota Jakarta Utara Effendi Anas berjanji memberikan diskon sebesar 50% bagi warga yang ber-KTP Jakarta untuk pindah ke rusun. Kebijakan serupa juga pernah diterapkan bagi penghuni Rusun Kali Adem, Penjaringan, Jakarta Utara.

”Harga sewa rusun yang saat ini dihuni nelayan itu sebesar Rp90.000–100.000 per bulan dari harga semula Rp300.000 –500.000 per bulan,” ujarnya. Effendi mengatakan, jika pendataan selesai dilakukan, seluruh warga penghuni kolong tol yang memiliki identitas resmi akan menempati rusun,di antaranya rusun Marunda, Muara Angke, dan Cakung Cilincing.

”Rusun Muara Angke dan Cakung Cilincing sudah siap digunakan, sedangkan Rusun Marunda tinggal dilengkapi fasilitas listrik saja,” tandasnya. Seperti diberitakan, Pemkot Jakarta Utara berencana menertibkan ratusan warga di bawah Tol Tanjung Priok hingga Pluit. (sucipto/sujoni)

Read More...

Tuesday, August 14, 2007

Studi kolong tol

Diunduh dari situs Badan Litbang Departemen PU

Studi Pengamanan Dan Penataan Lahan Damija Tol Cawang-Grogol-Pluit

Latar Belakang
Pembangunan Jalan Tol Cawang-Grogol-Pluit telah menghadirkan ruang-ruang kosong di bawah kolong jalan layang tol dan menimbulkan berbagai permasalahan di beberapa titik lokasi ruas jalan. Penyerobotan lahan Daerah Milik Jalan (DAMIJA) tol oleh masyarakat telah berkembang hingga pada kondisi yang memprihatinkan.

Bentuk-bentuk penyerobotan lahan dimaksud diantaranya :

  • Muncul dan berkembangnya bangunan-bangunan liar baik permanent maupun non permanen yang digunakan untuk tempat tinggal maupun tempat usaha
  • Terjadinya penumpukan sampah yang tidak terkendali.
  • Penurunan kualitas tanah pada lokasi-Iokasi yang selalu tergenang air.
  • Timbulnya kekumuhan lingkungan bawah tol dan gangguan teknis terhadap keselamatan jalan tol.
Maksud dan Tujuan
Maksud studi ini adalah menyusun konsep membangun kemitraan dalam pengamanan dan pengelolaan lahan DAMIJA dengan pendekatan pemberdayaan masyarakat sebagaimana model yang sedang. dikembangkan saat ini pada Studi Pengamanan dan Penataan Lahan DAMIJA Model Jakarta Infra Urban Tollway (JIUT)/ Harbour Toll Road (HTR).

Hasil Litbang/Kajian

  1. Tersedianya informasi umum jumlah lahan DAMIJA (yang telah diserobot/belum diserobot/telah dimanfaatkan).
  2. Tersedianya Model pemberdayaan Peran masyarakat dalam pengamanan dan penataan lahan.
  3. Tersusunnya deskripsi peran para pelaku/stakeholder (pemerintah pengelola, pengguna, dan masyarakat) dalam tahap Pra/Proses/Pasca pengosongan lahan.
  4. Tersusunnya model pendayagunaan lahan sesuai tata ruang, jenis penggunaan lahan dan kebijakan pengamanan penataan lahan, serta site plan dan pemanfaatan lahan.
  5. Terumuskannya konsep kebutuhan kebijakan hukum yang mengatur, kejelasan perijinan pemanfaatan lahan dan kebijakan pelibatan peran stakeholder dan masyarakat.
  6. Uji coba model Demplot KPD harus ditindaklanjuti secara serius, pada suatu ruas tertentu.

Kesimpulan
  1. Lahirnya Kebijakan Peraturan Perundang-­undangan khusus mengenai Damija Jalan Tol Layang adalah sangat mendesak didorong. Dilihat dari hasil kajian menunjukkan bahwa peraturan yang ada saat ini tidak cukup mengakomodir kepentingan lapangan.
  2. Perlu dipertegas Tupoksi (Tugas Pokok dan Fungsi) dari setiap pihak yang berkepentingan dalam studi ini.
  3. Demplot KPD harus ditindaklanjuti secara serius, karena masyarakat sangat berharap operasionalisasi dari Demplot tersebut.

Read More...